31 October 2012

GLEE 4 ON REVIEW: THE MAKOVER!

 
Setelah turunya rating di episode kedua. Glee benar-benar butuh game changer. Selain turunya viewers pada musim keempat nya ini. Rating nya pun juga turun. Kali ini giliran Eric Stoltz yang mengambil alih. Eric Stoltz yang juga pernah mengeksekusi beberapa episode seperti; The Purple Piano Project, Prom-A-Saurus sampai Nationals. Menurut saya, kerjaan nya cukup baik. Maka itu, saya cukup bersantai melihat ia yang akan melakukan kerjaan nya untuk episode ketiga. "Makeover"? Hm, bukanlah yang terbaik dari serial tv ini. Tidak Lebih baik dari episode keduanya, namun "Makeover" masih belum mendekati episode yang sempurna.

"Makeover" mengisahkan tentang Brittany (Heather Morris) yang kembali mencalonkan diri untuk school president. Namun, Blaine (Darren Criss) yang juga mendaftarkan diri. Kecewa karena Sam (Chord Overstreet) bukanlah pilihan Brittany, Blaine dan Sam pun menjadi satu tim dalam debat School President ini. Di sisi lain, Kurt (Chris Colfer) yang sudah sampai di New York mendapatkan pekerjaan nya secara cepat di Vogue.com yang di wawancarai oleh Isabelle Wright (Sarah Jessica Parker). Kemudian, Rachel (Lea Michele) yang sedang dekat dengan Brody (Dean Geyer) membuatnya bingung untuk memilih antara Brody dengan Finn (Cory Monteith).

Uh uh, saya tidak tahu semua lagu yang dinyanyikan oleh mereka di episode yang satu ini. Sedikit dull memang episode yang satu ini. Setiap momen tidak dihardirkan dengan spesial. Munculnya twist di akhir episode pun tidak dikemas dengan kuat dan belum mampu membuat penontonya menunggu-nunggu akan apa yang terjadi selanjutnya. Namun, chemistry yang dibangun antar pemainya patut diacungi jempol. Apalagi chemistry antara Kurt dengan Isabelle Wright yang sangat klop. Lebih membosankan dari keduanya, karena "Makeover" tidak memiliki sesuatu yang membuat Glee mendapatkan penggemar-penggemar baru. Tidak terkejut jika untuk kesekian kalinya GLEE kehilangan beribu penonton.

Overall: C+

28 October 2012

GLEE 4 ON REVIEW: BRITNEY 2.0

"Britney 2.0" mengisahkan tentang putus asanya Britney (Heather Morris) karena Sue Sylvester (Jane Lynch) mengeluarkanya dari anggota cheerleader dan memberikan pengaruh di GLEE CLUB. Di sisi lain, Kurt Hummel (Chris Colfer) menyusul sahabatnya Rachel Berry (Lea Michele) ke New York dan memutuskan untuk tinggal dalam satu apartemen bersama. Disinggung pelatihnya, Cassandra July (Kate Hudson) bahwa Rachel tidak mempunyai sex appeal semakin membuat Rachel panas dan ingin menunjukkan keseksian nya dengan bantuan Brody Weston (Dean Geyer).

Britney 2.0 bagaikan mengulang kembali apa episode yang berada di season kedua Glee yang berjudul "Britney/Brittany". Dimana di satu episode tersebut hanya menyanyikan lagu-lagu Britney Spears. "Britney 2.0" tidak lebih baik dari "Britney/Brittany" karena "Britney/Brittany" jauh lebih menyenangkan ketimbang "Britney 2.0". Dan lagu-lagu yang dibawakan di "Britney 2.0" seperti sisa-sisa nya dari "Britney/Brittany" jadi tidak banyak dikenal oleh banyak orang. Track terfavorit saya jatuh kepada Tina Cohen, Sam Evans dan Joe Hart menyanyikan "3" dengan versi akustik yang sangat asik dan menenangkan. Performa Rachel menyanyikan "Ooops..I Did It Again" juga tak kalah menarik. Namun, kembali lagi ke awal, tidak seasyik "Britney/Brittany". Tetapi, masalah koreografi...tak usah ditanyakan lagi. Standing ovation for the choreography.
Britney 2.0 mungkin hanya melakukan apa yang telah dilakukan. Berharap untuk mengejutkan penonton setia GLEE bahwa ada lanjutanya. Namun, Britney 2.0 gagal tampil semenarik Britney/Brittany. Namun di bagian storyline, semua mendapatkan porsi yang cukup dan pas. Porsi Rachel dan Kurt adalah porsi favorit saya. Sedangkan, Porsi Brittany sendiri terlihat kurang. Saya juga sempat bingung dengan dihadirkanya Noah Puckerman disini, dimana porsinya sangat minim. Comebacks should've been fun, but this is pointless. Britney 2.0 pada akhirnya sebenarnya mampu menciptakan momen-momen menyentuh dari setiap adeganya. Dan kali ini Britney 2.0 tampil lebih lucu dan lebih mampu mengundang tawa. Not hotter, not even close. Tetapi, Brintey 2.0 ada sesuatu yang "Britney/Brittany" tidak dapatkan. Pada akhirnya, it's all about comparing.

Overall: B-

GLEE 4 ON REVIEW: THE NEW RACHEL!


Glee is finally back! I've been waiting for so long. Penantian yang tidak begitu panjang akan hadirnya musim kedua dari GLEE akhirnya terbayar lewat episode pertamanya yang mengesankan ini. GLEE SEASON 4 pastinya kehilangan 8 member lamanya yakni: Rachel Berry, Finn Hudson, Mercedes Jones, Kurt Hummel, Santana Lopez, Mike Chang, Quinn Fabray dan Noah Puckerman yang dikenal sebagai "The Seniors". meninggalkan Sam Evans, Tina Cohen Chang, Blaine Anderson, Brittany Pierce, Artie Abrams, Joe Hart dan Sugar Motta sebagai "The Juniors". Niat Ryan Murphy untuk mengembalikan dan mempertemukan old casts dengan new casts disambut baik oleh para penggemar serial tv ini. Dengan viewers terendah di sepanjang sejarah GLEE, Saya yakin GLEE S04 akan mengambil lagi jutaan penonton di episode-episode yang akan datang ketika Ryan Murphy mulai mengembalikan satu per satu old casts nya.


GLEE S04: THE NEW RACHEL menceritakan tentang Will Schuester (Matthew Morrison) yang mengadakan audisi baru bagi orang-orang yang ingin menjadi anggota terbaru "New Directions". Semenjak kemenangan New Directions di Nationals. New Directions atau yang dikenal sebagai GLEE CLUB menjadi CLUB terkeren di sekolah tersebut. Berbagai audisi telah dilalui sampai pada akhirnya, Marley Rose (Melissa Benoist) seoranglah yang diterima sebagai anggota terbaru. Di sisi lain, Rachel Berry (Lea Michele) yang sekarang berada di New York di NYADA merasa tidak nyaman terhadap pelatih monster nya Cassidy July (Kate Hudson) yang terus menerus menjatuhkanya. 

"The New Rachel" bisa dibilang bukanlah episode pembuka season terbaik yang pernah saya tonton. Namun, masalah Plot dan storyline episode ini jagonya. Dengan alur yang cepat kita bisa menikmati "The New Rachel". Dengan lagu-lag yang fun seperti Call Me Maybe, Chasing Pavements dan lain-lain juga sangat berpengaruh bagi penontonya. Pasti penonton akan menyukai jika mereka menyanyikan lagu-lagu yang baru dirilis. Sebenci-benci nya saya terhadap Alex Newell yang disini berperan sebagai Wade Adams, dia disini bermain dengan sangat brillian. Dia mampu bermain total. Dan Heather Morris sebagai angin segar. Dan Sugar Motta dengan kata-kata nya yang bisa mengundang tawa. Kate Hudson juga mempengaruhi episode ini atau bahkan season ini juga. Dengan hadirnya Kate Hudson, Glee bisa lebih dikenal banyak orang lagi. Saya masih menunggu kehadiran casts lama nya yang jauh lebih lovable jika dibandingkan dengan pemain-pemain barunya yang bermodalkan tampang. Last but not least, Melissa Benoist atau Marley Rose yang disini sepertinya sebagai The New Rachel Berry dengan parasnya yang cantik pasti akan disukai banyak penontonya. Dengan suaranya yang sangat berkarakter dan berkarisma.But, I've learned that no one can replace Rachel Berry and Lea Michele herself. And Marley Rose ain't Rachel Berry!

Overall: A-

26 October 2012

Haley Reinhart - Listen Up! (Album)


Haley Reinhart mungkin bisa dibilang pendatang baru di music industry. Keluaran American Idol 2011 ini memang bukan berakhir sebagai pemenang. Melainkan hanya meraih posisi ketiga di tahun tersebut. Perjalanan nya bisa dibilang tak semulus yang dipikirkan. Seperti halnya di American Idol dimana ia sedikit di rendahkan dan dianak-tirikan oleh para juri. Tidak menyangka bahwa ia bisa bertahan sampai tiga besar karena banyaknya menempati posisi tidak aman. Namun, dari cobaan demi cobaan tersebut dia belajar untuk menjadi penyanyi yang lebih baik. Menjadi pertanyaan besar akan menjadi penyanyi seperti apakah Haley kelak? Ia selalu mengatakan bahwa ia akan membuat album dengan bermacam-macam genre seperti jazz, rock, pop, soul dan pada akhirnya... pada tanggal 22 May 2012 terjawab semua pertanyaan-pertanyaan. Haley Reinhart mengambil jalur Pop dan sedikit dibalut Jazz. Ia mendengarkan saran dari Randy Jackson sepertinya. 


Haley mendapatkan banyak sekali dukungan dari aktris-aktris luar. Seperti pemenang American Idol season pertama, Kelly Clarkson. Lady Gaga, Ellen DeGenerees, Adam Lambert, Robert Plant, Jimmy Page, Kris Allen dan Melinda DooLittle. Saya sudah menjadi fans terbesar Haley semenjak ia memulai karir nya di American Idol. Menjadi underdog of the year membuat saya bangga terhadap Haley. Setelah mendengarkan lagu-lagu yang terdiri dari 14 lagu untuk Deluxe Edition. Dan 10 lagu untuk yang Non-Deluxe Edition. Sayangnya saya hanya bisa membeli yang non-deluxe Edition. Lagu terfavorit saya jatuh kepada "Keep Coming Back". Album ini bisa jadi salah satu album terbaik dari alumni American Idol. 

Track Listing:
1. Oh My feat B.o.B: (3.5/5)
Lagu ini menunjukkan sisi keseksian dari Haley Reinhart. Munculnya B.o.B untuk datang membantu Haley dilagu ini sepertinya adalah pilihan yang cukup tepat. Dimana mungkin beberapa fans nya akan mengenal Haley lebih lewat lagu yang super hot ini.

2. Free: (3.5/5)
"Free" adalah single pertama yang dirilisnya lewat album ini. Free is a mature break-up song. Bukanlah lagu terbaik secara keseluruhan. Namun, Free adalah lagu yang cukup catchy. Dengan lirik-lirik yang ngena. Free telah meraih posisi ke 26 dalam Adult Pop Songs di Billboard100. Congrats on that.


3. Liar: (3/5)
Saya cukup senang mendengarkan lagu yang satu ini. Dimana saya bisa mendengarkan "growl" nya yang telah lama saya tidak dengar semenjak ia di American Idol. "Growl" nya adalah hal yang khas darinya. "Liar" adalah lagu yang penuh dengan kata-kata indah dan kualitas vokal Haley yang sudah membaik saja.

4. Wasted Tears: (3/5)
Saya sangat menyukai suaranya disini yang sedikit berbeda dibandingkan lagu lainya. Seperti lebih serak-serak. "Wasted Tears" mungkin bukanlah lagu terbaik. Namun, masih sangat enak untuk dinikmati.

5. Undone: (4.5/5)
Wohooo! Apa yang tidak membuat bangga lagi? Lagu ini sudah dipakai untuk soundtrack film "Step Up Revolution". Menceritakan tentang putusnya hubungan antara dua pasangan. Haley Reinhart menyampaikan pesan-pesan dari lagu ini dan untungnya bisa tersampaikan dengan sangat baik. "Undone" adalah lagu favorit dalam album ini menurut orang kebanyakan.

6. Now That You're Here: (4/5)
Bukanlah favorit saya. Namun "Now That You're Here" jelas adalah sebuah lagu yang sangat enak untuk didengarkan. Catchy dan tempo yang sedikit lebih cepat daintara lagu-lagu diatas. Suara Haley yang sangat pas. Dengan lirik-lirik yang tidak cheesy dan kampungan.

7. Wonderland: (3.5/5)
Dalam "Wonderland" Haley bisa menunjukkan variasi-variasi berbeda dari suara nya dan dengan warna-warna yang berbeda. Dengan chorus nya yang dinanyikan dengan sangat-sangat tepat. "Wonderland" bisa jadi lagu yang paling diingat oleh kebanyakan. Mari berdoa agar "Wonderland" menjadi single kedua dari album ini.

8. Keep Coming Back: (4.5/5)
Favorit saya akhirnya tiba! Saya mendengarkan kembali geraman Haley disini. Dan disini Haley seperti ingin menonjok muka orang yang menyakiti hatinya dalam lagu ini. Dengan lirik-lirik yang kebanyakan disukai oleh kaum hawa, Haley Reinhart bisa menapatkan banyak fans baru lewat "Keep Coming Back".

9. Hit The Ground Running: (3/5)
Lagu ini menciptakan beberapa momen-momen menarik. Dan dengan mainan-mainan pianis disini membuat lagu ini semakin lebih baik. Sisi Jazz Haley lebih terdengarkan disini dibandingkan lagu-lagu lainya. 

10. Walking On Heaven: (3.5/5)
Lagu ini menjadi lagu yang tepat untuk non-Deluxe Edition. I can honestly listen to this all day long. Dengan lagu penutup yang pas dan lirik yang menciptakan keindahan. "Walking On Heaven" dengan catchy-nya bisa jadi salah satu lagu favorit saya.

Deluxe Edition:

11. Follow Me (I'm Right Behind You): (2.5/5)
Jika ditanyakan lagu apa yang kurang disukai, sebenarnya tidak ada. Karena saya menyukai keseluruhan album ini. Namun, "Follow Me" tidak seenak dan secatchy lagu-lagu lainya. sepertinya Haley hanya sengaja memasukan ini hanya untuk menambahkan jumlah lagu disini. Tetapi saya tetap menikmatinya.

12. Spiderweb: (3/5)
Lebih seperti lagu-lagu anak muda zaman sekarang. Lewat hatinya Haley bisa menyanyikan lagu ini dengan sangat ngena. Sayang sekali lagu ini ditempatkan di Deluxe Edition. "Spiderweb" menunjukkan ke-depresian Haley akan cinta.

13. What You Don't Know: (3/5)
"What You Don't Know" sebenarnya bisa menjadi lagu terfavorit pendengarnya. Namun, "what you don't know" memang tidak se-spesial lagu lainya. Keindahanya terletak pada cara Haley menyanyikan chorus nya. Masih jauh dari kata "karya yang mengecewakan"

14. Let's Run Away: (4.5/5)
Oh man! Ini adalah lagu terasik dari semuanya. Saya tidak pernah mendengarkan Haley ditambah dengan gitar seasik ini! Siapapun yang membantu Haley membuat lirik dan membuat nada dan semacamnya, I love you so much! Lagu ini membuat saya nyaman. Dan Haley akhirnya bersantai sedikit. 


"Listen Up!" adalah sebuah album dari penyanyi bernama Haley Reinhart. Album ini berhasil menjual 44 copies lebih hingga sekarang. Banyak yang mengatakan bahwa Haley Reinhart adalah gabungan dari Adele,Amy Winehouse dan Duffy. Well, i coudln't agree more. Haley Reinhart berhasil menciptkan album yang sangat klasik dan menyenangkan dari lagu-lagu yang menyenangkan dan enak untuk dinikmati. Sempat meraih posisi ke 17 dalam Billboard 200. Haley patut bangga dengan apa yang telah ia capai. Dan sangat bangga karena review-review positif terhadap album nya yang satu ini. Bisa jadi salah satu album terbaik di tahun ini! Pada akhirnya, tidak ada rasa penyesalan setelah membeli Listen Up!

Overall Album: B+



25 October 2012

P!NK - The Truth About Love (Album)



Oh Man, siapa yang tak tahu sosok P!NK? Penyanyi awalnya terkenal lewat lagu "Perfect" dan "Raise Your Glass" ini memang sudah dikenal dengan genre-nya "pop-rock". Saya bisa katakan bahwa P!NK mungkin salah satu penyanyi terbaik diluar sana. Gak cuma modal tampang, tapi dia juga bisa buktiin kalo dia juga mempunyai suara yang khas dan bagus pula. Dan lagu-lagu yang dirilisnya memang selalu tepat. "The Truth About Love" adalah album ke-enam nya. Dirilis pada tanggal 14 September. Ya, baru-baru ini. "Blow Me (One Last Kiss)" adalah single pertamanya dari album keenamnya ini dan berhasil menempati posisi ke #5 di Billboard HOT100. Well, we got Adele for 2011 Album Of The Year. And this year goes to.... saya tidak mau cepat-cepat menebak ini itu. Memang tahun 2012 akan berakhir sebentar lagi. Tapi saya yakin jelas bahwa "The Truth About Love" adalah salah satu album terbaik yang keluar di tahun ini. 

Bayangkan, 17 lagu di album ini dan semuanya bener-bener enak buat didenger. Pop-Rock nya P!NK masih hidup. Lagu favorit saya di album ini adalah "Beam Me Up". benar-benar menunjukan softer side nya seorang P!NK. "Try", "Blow Me(One Last Kiss)", "Walk Of Shame", "Just Give Me A Reason" dan "Good Old Days" juga bisa dikatakan lagu-lagu favorit saya. Eminem juga berduet dengan P!NK di lagu "Here Comes The Weekend" dan cocok-cocok saja. Seperti yang saya katakan, Di album keenamnya ini lagu-lagunya sangat catchy. 17 Lagu dalam satu album memang sangat jarang kita temui. Dan 17 lagu itu enak-enak pula. 

1. Are We All We Are: (3.5/5)
Dengan tempo yang sedikit lebih cepat dibandingkan lagu-lagu lainya. "Are We All We Are" sangat catchy. Sangat tepat bagi P!NK untuk meletakkan "Are We All We Are" di urutan pertama agar para pendengar bisa dikejutkan dengan lagu yang cukup menarik.

2. Blow Me (One Last Kiss): (4/5)
Entah kenapa disini saya lebih merasakan P!NK disini. Ia seperti berkobar-kobar. Dan dengan jiwa "Rock" yang lebih Rock dibandingkan lagu-lagu lainnya. Tidak salah mengapa lagu ini sempat meraih posisi #5 di Billboard HOT100. Dan sekarang masih berlomba-lomba untuk menempatkan posisi pertama.

3. Try: (4/5)
"Try" adalah single kedua yang baru ini dirilis dan baru saja music-video nya dirilis. "Try" adalah lagu yang digunakan P!NK untuk menyampaikan pesan kepada pendengar bahwa janganlah terus-terusan bersedih dan bangkitlah. "Try" adalah track yang cukup emosional.

4. Just Give Me A Reason featuring Nate Ruess: (4/5)
Memang tidak spesial. Tapi lagu ini adalah lagu pertama yang saya hafal liriknya. Karena dengan berduetnya P!NK dengan Nate Ruess lebih terasa nyaman. Dengan liriknya yang ngena. Ya itulah P!NK.

5. True Love:(4/5)
"True Love" adalah dimana P!NK seperti menikmati dan bersantai sedikit. Semua itu ditunjukkan lewat cara ia bernyanyi yang lebih santai. "True Love" lebih "young" dibandingkan lagu-lagu P!NK yang kebanyakan berat.

6. How Come You're Not Here: (3/5)
Saya agak ketakutan mendengar lagu yang satu ini. P!NK seperti sedang benar-benar marah. Dan ditunjukan lewat lagu yang satu ini. Walaupun itu, "How Come You're Not Here" masih tetap enak untuk didengar dan dinikmati. 

7. Slut Like You: (3.5/5)
"Slut Like You" memang dari judulnya memang sedikit nakal dan agak canggung jika didengarkan oleh anak dibawah umur. Lewat liriknya yang juga lebih brutal. Walaupun itu, "Slut Like You" masih sangat seru apalagi jika P!NK sudah mulai menyanyikan chorus nya!

8. The Truth About Love: (2.5/5)
"The Truth About Love" boleh jadi judul dari album ini. Namun, lagu nya sendiri kurang menggigit dibandingkan lagu lainya. P!NK mau menunjukkan sisi keseksian nya yang memang terasa dilagu ini cuma kurang lagunya kurang nendang.

9. Beam Me Up : (4.5/5)
Kaget ketika mendengar lagu "Beam Me Up". Karena lagu ini lebih ke acoustic. Jadi hanya suara P!NK dan gitar sajalah. Dengan lembut dan lirik yang sangat ngena. "Beam Me Up" adalah lagu favorit saya dalam album ini. Sedih ketika mendengar lagu ini. Melihat kembali kebelakang memori-memori indah yang saya kenang bersama teman-teman dan keluarga. Lebay memang.

10. Walk Of Shame: (3.5/5)
Memang durasi nya tidak begitu lama. Namun, "Walk Of Shame" mempunyai sesuatu yang membuat hanya 2 menit durasi nya menjadi begitu enak dan terasa pas. Dengan liriknya berikut ini: "Damn the man it sure is fun, To Party til' the sun wakes up. Ok now rise two hans if you've ever been guilty and clap clap clap t out if you've walked with me"

11. Here Comes The Weekend featuring Eminem: (2.5/5)
Jangan pernah mengira jika "2.5" adalah nilai yang buruk. Saya tetap menikmatinya. Namun, tidak ada kesan berarti dari lagunya tersendiri. adanya Eminem sepertinya tidak memberikan dampak tertentu bagi lagu ini. "Here Comes The Weekend" masih enak untuk didengarkan ketika sedang kebosanan.

12. Where Did The Beat Go? : (2/5)
Sorry, P!NK. Tetapi memang "Where Did The Beat Go?" tidak seenak lagu-lagu lainya. Tapi, masih enak untuk didengar. Tidak seburuk-buruknya sampai saya mengskip lagu ini. Vokal P!NK lebih matang di lagu ini. Jika disuruh menyingkirkan satu lagu dari album ini, lagu inilah yang akan saya pilih.

13. The Great Escape: (3.5/5)
"The Great Escape" juga adalah lagu yang emosional. P!NK + Piano? sangat cantik. Best Lyric saya harus tujukan kepada lagu ini. Lagu ini dinyanyikan oleh P!NK sangat-sangat baik. 

14. My Signature Move : (3/5)
Lagu ini agak mirip dengan lagu "My First Kiss" nya 30HI3. Namun, jelas saya lebih memilih lagu ini. Tidak sespesial lagu lainnya. Sulit untuk tidak menyukai lagu ini karena lagu ini memiliki pesan-pesan yang kuat bagi pendengarnya. "My Signature Move" memang bukanlah yang terbaik, namun masih sangat enak untuk dinikmati.

15. Is This Thing On? : (3/5)
Jika tidak benar-benar mendengarkan isi lirik dari lagu ini. Pasti akan terasa sedikit menjemukan. Monoton? tidak juga. "Is This Thing On?" mungkin memang lebih ke arah pop. Sementara lagu-lagu diatas kebanyakan lebih mendekati "Rock" jadi akan terasa sedikit berbeda lagu yang satu ini. Tetapi, jangan melewatkan lagu ini juga.

16. Run: (3/5)
Nah, lagu yang satu ini agak mirip lagu Greyson Chance yang sampai sekarang saya tidak ketahui judulnya. Kalau tidak salah, sangat mirip dengan lagunya "Take Look At Me Now". "Run" adalah lagu yang "hidup". P!NK berhasil menyanyikan lagu ini dari dalam lubuk hatinya dengan sangat baik.

17. Good Old Days: (4.5/5)
Coba saja dengarkan lagu ini. Pasti akan terasa nyaman dan lebih terasa happy. Lebih relax. Dengan suara P!NK yang sedikit berat kemudian ditambah dengan lagu nya yang memang santai. Memang tepat jika menempatkan "Good Old Days" di urutan terakhir. Untuk akhirnya bersantai dari lagu-lagu berat dan serius diatas. 

Album ini makin membuat saya menggemari sosok P!NK. Lagu-lagu diatas yang sangat enak untuk didengar membuat saya sangat senang bahwa saya tidak salah membeli album. Tidak ada rasa penyesalan sedikit pun mengeluarkan sejumlah uang hanya untuk mendengarkan lagu-lagu diatas. Dan saya anjurkan beli album yang "Deluxe Edition". Akan lebih terasa jiwa P!NK. Saya tidak berlebihan. 'The Truth About Love" mungkin akan menjadi album terbaik di tahun ini. Jangan lupa juga melihat video klip. "Blow Me (One Last Kiss) dan "Try" yang baru saja dirilis. Akhir kata, lewat "The Truth About Love" P!NK akan mendapatkan banyak sekali penggemar baru, seperti saya. Dan saya berani katakan bahwa lagu-lagu P!NK jauh lebih baik dari Adele.

Overall Album: A



21 October 2012

Rock Of Ages (2012)


 
Adam Shankman, yang sudah dikenal lewat film “Hairspray” yang menghibur itu. Atau jika anda pernah menonton Bedtime Stories. Atau drama yang pernah dirilis tahun 2002 lalu, A Walk To Remember. Dan pernah juga menggarap beberapa episode dari GLEE. Adam Shankman kali ini bisa dibilang tidak terlalu berhasil mengeksekusi film yang telah ditunggu tunggu kehadiranya di layar lebar, Rock Of Ages. Sangat disayangkan. Adam Shankman hanya memasukan lagu-lagu yang sudah diyakini akan disukai oleh para penonton. Tanpa adanya unsur “rock” yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh film ini. Pada akhirnya, semua penantian akan film ini terbayar dengan sia-sia. Terserah anda jika berpikir bahwa saya berlebihan menjelek-jelekan film ini. Karena memang terbukti Rock Of Ages tidak sanggup tampil diatas ekspektasi penontonya. Walaupun masih jauh dari kata buruk dan masih layak untuk dinikmati.

Rock Of Ages menceritakan tentang gadis bernama Sherrie (Julianne Hough) yang baru saja sampai di Hollywood namun tiba-tiba dirampok dan tidak memiliki apa-apa. Gadis berambisi ini yang sangat menggemari sosok “Stacee Jaxx” beserta band nya kemudian bertemu dengan Drew (Diego Boneta) yang berkerja di salah satu club yang pada hari jumat akan dikunjungi oleh Stacee Jaxx (Tom Cruise). Sherrie pun bekerja di club itu. Semuanya tidak berjalan mulus. Karena terjadi kesalahpahaman dan hal-hal lain yang membuat Sherrie ingin kembali lagi ke kampung halaman nya dan ingin membuang jauh-jauh pengalaman buruknya di L.A.
 


Rock Of Ages memang awalnya tampil meyakinkan. Dengan lagu-lagu yang kita ketahui jadi gampang itu bernyanyi bersama para pemain. Lama kelamaan saya merasa Rock Of Ages begitu-begitu saja. Julianne Hough yang sangat cantik dan menawan mungkin akan disukai banyak orang, juga Diego Boneta. Walaupun akting mereka masih terbilang sedikit kaku dan sedikit terlalu canggung. Mary J Blige, Russel Brand dan Malin Akerman bermain dengan baik disini. Apalagi Russel Brand yang mampu mengundang tawa lewat adegan yang konyol. Dan Malin Akerman mampu tampil seksi untuk kesekian kalinya di film yang ia mainkan. Tom Cruise, dengan gaya selengek-an nya tampil memukau pula. Jadi, para pemain disini bisa dibilang mampu menghidupkan karakter mereka masing-masing. Tidak lupa pula Catherine Zeta Jones.

Secara Keselurhan, Rock Of Ages bukanlah sebuah drama/musical terbaik yang pernah saya tonton. Sangat jauh dari kata sempurna. Dan bahkan tidak terlalu mengesankan. Bukanlah sebuah musical yang spesial di tahun ini. Unsur-unsur rock nya yang terbilang kurang. Sepertinya Adam Shankman hanya mementingkan para pemain yang untungnya bermain dengan cukup baik. Saya paling suka dengan Mary. J Blige entah mengapa. Dan Catherine Zeta Jones yang walaupun tidak terlalu banyak mendapatkan porsinya namun tampil sangat mencolok setiap kali adeganya muncul. Menyenangkan jika kita hanya mendengarkan musik-musik yang menemani sepanjang film ini dengan tidak mementingkan seluruh kekurangan dan hanya ikut bernyanyi. Sayangnya, pada akhirnya kita semua tersadar bahwa Rock Of Ages bukanlah sebuah film yang kuat walaupun sudah ditolong oleh Tom Cruise. Dan saya telah sadari bahwa GLEE bahkan tampil lebih baik dibandingkan Rock Of Ages. Tidaklah terlalu buruk sampai ingin membuang dan melupakan film ini. Namun, andaikan Adam Shankman mengeksekusi film ini dengan lebih serius pasti hasilnya akan jauh dari yang baru saya tonton ini. Cukup disayangkan.
C+

18 October 2012

Looper (2012)


Bagaimana jika anda bertemu dengan diri anda sendiri di masa yang akan datang? kemudian mengejar diri anda sendiri namun 30 tahun lebih tua dari anda. Jika memikirkan hal tersebut dan berada dalam situasi tersebut, pastinya kita tidak tahu harus berbuat apa. Begitulah gambaran dari film Looper yang baru saja tayang. Dengan para pemain yang tidak usah diragukan lagi akting nya : Joseph Gordon Levitt, Emily Blunt dan Bruce WIllis. Joseph Gordon Levitt yang baru-baru ini juga muncul di layar lebar lewat film nya berjudul Premium Rush. Dan tidak begitu lama pula dalam film The Dark Knight Rises. Joseph Gordon Levitt tampil sangat berbeda disini. Saya tidak menyangka bahwa itulah dia. Untung saya sempat membaca daftar pemainya. Joseph Gordon Levitt bisa-bisa menjadi aktor terlaris dalam tahun ini. Tidak heran, ia memang pintar dalam berakting dan dengan wajah yang tampan.

Mengisahkan tentang Joe (Joseph Gordon Levitt) yang seorang penembak yang handal yang berhasil menembak begitu banyak musuh-musuh masa depanya. Joe memang dikirimkan dan dibayar untuk membunuh buronan di masa depan. Namun, secara tiba-tiba ia bertemu dengan dirinya sendiri di masa yang akan datang. Old Joe (Bruce Willis) berhasil kabur dari Joe. Joe tidak tinggal diam. Ia mencari-cari dirinya di masa depan. Namun, ditengah perseteruan antara dirinya dengan dirinya di masa depan. Ia dilibatkan dengan masalah baru, Rainmaker. Yang melibatkan seorang anak dan seorang ibu, Sara (Emily Blunt) yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Namun, mereka bertiga harus berjaga-jaga karena banyak sekali yang mengincar Joe dan RainMaker yang diduga adalah anak dari Sara.

Ya, begitulah Plot cerita dari Looper. Bagi yang belum menontonya dan baru saja membaca plot nya dari mana saja pasti akan langsung tertarik dengan ceritanya. Dan buru-buru bergegas ke bioskop untuk menontonya. Karena memang Looper sangat
likeable. Jika genre nya dikatakan sebagai film sci-fi, thriller, action. Bukan berarti kita hanya melihat aksi terus menerus. Masih ada unsur-unsur lain. Seperti dengan adanya Emily Blunt sebagai Sara dan Pierce Gagnom, sangat membantu. Dan pastinya seperti angin segar. Apalagi Pierce Gagnom yang sangat lucu. Kita juga diperlihatkan momen-momen mengharukan dari kedua ibu dan anak yang paling saya ingat sampai sekarang. Dan momen-momen mengerikan karena adanya sosok RainMaker yang secara mengejutkan menyelip di plot ceritanya. Rainmaker nya lah yang paling mencuri perhatian saya. Yang bahkan lebih seru melihatnya dibandingkan aksi Joseph Gordon Levitt dan Bruce Willis.

Looper memang tidak berjalan dengan sempurna. Secara keseluruhan, Rian Johnson betul-betul kuat hanya di paruh kedua nya. Bagi orang yang menyukai film sejenis akan menuntut lebih. Namun jika orang yang tidak begitu menyukai genre ini, atau hanya untuk menyaksikan para pemainya mungkin akan menerima film ini apa adanya dan pastinya akan menganggap kalau film ini memang sangat menghibur dibalik kekurangan yang..ya bisa dihitun jari. Kekurangan yang memang hampir ada disemua film kebanyakan. Intensitas ketegangan mampu diciptkan oleh Rian Johnson dengan konsisten. Adegan aksi yang menegangkan. Beberapa adeganya memang sedikit basi. Sudah dipakai oleh film-film aksi kebanyakan. Namun, adegan yang sedikit basi itu mampu dibuat menjadi adegan yang sangat membuat jantung berdetak kencang.

Para pemain bermain dengan brilian. Menurut saya, Bruce Willis disini hanya sebagai cadangan saja. Jika penonton sudah kebosanan melihat Joseph Gordon Levitt terus menerus. Maka dimunculkanlah Bruce Willis. Apalagi bagi ibu-ibu atau bapak-bapak yang senang dengan Bruce Willis. Pasti akan menunggu-nunggu Bruce Willis melakukan aksinya. Tetapi, bagi orang-orang yang lebih muda pasti akan lebih menunggu Joseph Gordon Levitt. Emily Blunt bermain dengan sangat apik. Beserta Pierce Gagnon yang sangat imut. Seperti aktingnya sudah diasah. Rian Johnson sangat beruntung memiliki keempat pemain diatas yang sangat bermain dengan total yang jelas sangat membantu filmnya sendiri. Sulit untuk memilih "the pimp spot" disini karena mereka semua sangat mudah untuk disukai. Ah! Sekali lagi pemain disini sangat bermain dengan total. Tidak berusaha menjadi karakter yang mengemis-ngemis untuk disukai para pemainya, melainkan mereka bermain dengan sangat natural.

Overall, Looper adalah contoh film action-scifi yang sangat menghibur. Penampilan para pemainya yang cemerlang. Ditambah konsep yang menarik. Eksekusi yang baik pula. Rian Johnson mengeksekusi Looper menjadi film yang sangat mengena dan akan diingat terus dihati para penontonya. Looper bukanlah seperti action biasa yang cuma menyajikan aksi-aksi non-stop. Namun, kita pasti bisa merasakan para pemainya dan terbawa kedalam emosi dan suasana yang mereka rasakan. Paruh pertama memang sedikit lebih bertele-tele.  Dimana paruh kedua lebih menyenangkan dan mudah untuk dinikmati jika dibandingkan paruh pertamanya. Walaupun terkadang memang alur keduanya sedikit membosankan. Bruce Willis, Joseph Gordon Levitt dan Emily Blunt tampil dalam satu layar. Sangat mengesankan. Visualnya memang menarik. Dan yang terakhir, quotes yang menarik yang telah dilontarkan. Looper hadir sebagai film yang sangat menghibur ditahun ini. Akan bersaing dengan film-film blockbuster lainya. I've seen better, but still worth watching!


B+

13 October 2012

Young Adult (2011)

 

Young Adult mengisahkan tentang Mavis Gary (Charlize Theron), seorang penulis yang berumur 37 tahun yang dulu sangat terkenal di masa SMA nya. Mavis adalah seorang wanita yang merasa dirinya perfect, walaupun ia menyadari bahwa banyak pula yang membenci nya. Ketika ia dikirimkan surat oleh Buddy Slade (Patrick Wilson) memberitahu bahwa ia telah dikaruniai seorang bayi yang lucu. Mavis Gary memutuskan untuk kembali pindah ke kampung halamanya dengan alasan membutuhkan tempat yang tenang agar ia dapat melanjutkan menulis novelnya. Mavis Gary sebenarnya masih mencintai Buddy Slade dan ingin merebutnya kembali dari istrinya Buddy Slade, Beth (Elizabeth Reaser) lewat cara-cara yang mengesalkan sekaligus mampu mengundang tawa.

Walaupun diakhiri dengan ending yang kurang nendang, kita sepertinya tahu bahwa Mavis 
Gary tidak akan pernah berubah. Lihat saja bagaimana ia mengakhiri film ini. Well, Jason Reitman mampu membuat penonton bertanya-tanya apakah yang akan terjadi kepada Mavis Gary selanjutnya dalam film ini? Setiap adegan tampil sangat kuat. Dengan dialog-dialog cerdas dan sedikit menyindir. Film ini tidak berat sama sekali. Memang ditujukan untung menghibur para penontonya lewat karakter Charlize Theron yang bitchy tersebut. Jika ada orang yang membenci bahkan memaki-maki film ini, saya tidak habis pikir apa yang ada di otaknya. "Young Adult" sangat sulit untuk tidak disukai. Lewat karakter-karakter dan jalan penceritaan yang baik, Young Adult seharusnya saya tempatkan menjadi film drama terbaik tahun lalu.

 Dari segi akting, Charlize Theron you da one. Entah bagaimana kalau misalkan bukan Charlize Theron yang memainkan tokoh Mavis Gary. Pemilihan Charlize Theron adalah pilihan yang sangat tepat. Charlize Theron benar-benar tampil mengesalkan sebagai wanita yang desperate. Elizabeth Reaser sebenarnya kurang tampil mencolok, namun dengan wajah yang menawan tersebut saya semakin ingin melihatnya terus-menerus. Dan pemain-pemainya juga tampil tak kalah baiknya. Patrick Wilson, Patton Oswalt juga bermain dengan sangat baik. Jadi, semua pengisi departemen akting membantu "Young Adult" juga. Chemistry yang dibangun antara Mavis Gary dengan Matt mampu dibangun dengan baik oleh keduanya. Jadi, semuanya tampil membanggakan. Dan ketika sang istri dari Buddy Slade menumpahkan minuman ke gaun barunya Mavis Gary, damn! itu adalah bagian favorit saya ketika Mavis Gary marah kepada istrinya. Charlize Theron memang seharusnya memenangkan setidaknya satu Oscar Award.

Young Adult dengan lancarnya berjalan dengan cukup mulus. Alur nya tidak lambat menurut saya. Saya juga mampu menikmati menit-per-menit film ini berlangsung. Jason Reitman mampu membuat 83 menit menjadi 30 menit, merasa bahwa 83 menit berlangsung sangat sebentar. Bagaimana tidak merasa begitu? di sepanjang film kita melihat Mavis Gary, Charlize Theron yang ingin sekali memprebutkan hati Buddy Slade dengan cara-cara yang lucu, konyol dan gila yang bisa membuat penonton tertawa lebar ataupun tertawa kecil. Bahkan dengan mimik muka nya Charlize Theron saja kita sudah mampu tertawa. Young Adult juga mampu membuat kita tersenyum iba melihat nya. Dan Young Adult juga mampu menciptakan momen-momen menyentuh yang mungkin tidak semua orang menemuinya. Young Adult adalah sebuah Drama-Comedy yang cerdas. Thanks Jason Reitman for this hilarious movie!

 

A-