25 February 2011

My Review: Fair Game




Hidup sebagai seorang agen rahasia sungguhan tidak dapat disamakan dengan apa yang ditampilkan secara keren oleh James Bond. Pada dasarnya.agen  rahasia memilik kehidupan biasa namun ngga diketahui siappapun. termasuk keluarganya. Tidak ada yang siap men-support perlengkapan canggih saat sang agen sedang menjalankan operasi rahasianya. Semua kata yang berkaitan dengan 'rahasia' emang bener-bener dijaga oleh pemerintah yang mengepalai para secret agent ini.

Fair Game mengangkat cerita tentang agen rahasia CIA Valerie Plame(Naomi Watts) yang identitasnya 'sengaja' dibongkat pemerintah AS lewat surat kabar. Penyebabnya adalah artikel buatan suaminya, bekas duta besar bernama Joseph WIlaon(Sean Penn), yang mengungkapkan bukti bahwa George W.Bush telah mebeberkan dokumen tidak benar demi menyerang Iraq dengan dialoh negara itu mempunyai senjata penghancur massal. Skandal Pengungkapan Identitas Valerie ini sempat mencuat AS tahun 2003.
 Mirip dengan film  Nothing But The Truth, Fair Game lebih berada di jalur utama politik ketimbang melaju di lintasan thriller seru bahkan action.Jangan Samakan film ini dengan The Bourne Idenrity yang juga ditangani oleh Doug Liman, Fair game lebih menyusung tema berat yang sedikit cair berkat gaya penyutradaraandan sinematografi Liman di dalamnya. Mungkin kalau kalian mengajak anak-anak menontonya, mungkin meraka akan mati kebosenan karena filmnya emang terlalu berat buat mereka.


Unsur Fiksi sepertinyaa juga banyak disisipkan di Fair Game ini. Dengan kisah yang kental dengan aroma politis, performa Naomi Wattsyang menonjol disini.Berkolaborasi kembali bersama Sean Penn seperti dalam 21 Grams.Watts kali ini mengambil alih ke,udi dengan porsi peran yang memang lebih besar baginya. Selain menampilkan sosok agen rahasia yang terzalimi, Watts juga dengan hebat mampi memberikan potret istri dan ibu yang penuh dengan emosional, benar agen rahasia juga seorang manusia biasa.....


B

15 February 2011

My Review: The Fighter

Seperti film sport lainya, olahraga itu sendiri bukanlah menu utamanya. Pencarian jati diri dan mengalahkan musuh terbesar yakni diri sendiri adalah plot yang hanya bisa diantar lewat keringat. Demikian juga The Fighter. Tidak adil jika ktita harus menyandingkan mereka dengan Rocky atau Raging Bull.Tapi The Fighter punya stamina sendiri menghadapi penontonya. Selera humor yang cukup baik ditambah adonan brotherhood yang bisa membuat kita tertarik.


Based on true story diceritakan bahwa Mickey(Mark Wahlberg) ingin berkarir sebagai petinju diluar bayang- bayang abanya Dicky(Christian Bale) dan ibunya(Mellisa Leo) cerita ini pun membuat tertarik.Dalam level sendiri tidak ada seorang pun yang tidak memiliki isu keluarga.Paada akhirnya, daripada selalu melemparkan kesalahan pada orang lain, Mickey Hengkang ke Las Vegas meraih karirnya.






Tidak terjebak klise yang berplot ABC, Penulis Scott Silver dan Eric johnson tampaknya mampu menikung tiap scenesehingga tidak berkesan dongeng American dreams lainya.Warna suram Massachusetts dan penampilan bale yang kembali ke tongkrongan cungkring junkis sejak The Machinist memperingatkan penontonya ini bukanlah Rocky IV. Setting modern dan melibatkan peran HBO sedang membuat dokumentasi dan kehidupan Dicky sbgai mantan petinju.


Karateristik para tokohnya terasa pas, tidak dibuat sprti orang suci namun tentu tidak sebejat Jake Lamotta. Sayang pemilihan endingnya tidak terlalu fairy tale terasa kurang mengigit dibandingkan dengan badan filmnya yang cukup memukau dengan temop pas. Sementara FIlm bertema basket lebih menggarisbawahi. Tapi  film tinju termasuk The Fighter selalu menginatkan bahwwa rintangan sukses terbesar selalu beradi di kita. filmnya bagus. seru , ga bnyak basa basi. Menarik lah




B+